Pemerintah Targetkan 51 Persen Pengelolaan Sampah pada 2025, Bagaimana Caranya?
KOMPAS.com - Pemerintah menargetkan pengelolaan sampah nasional mencapai 51 persen pada 2025 dan 100 persen pada 2029, menyusul semakin mengkhawatirkannya jumlah timbulan sampah di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, Indonesia menghasilkan sekitar 64 juta ton sampah per tahun. Namun, hanya 10–15 persen di antaranya yang berhasil didaur ulang. Sisanya, 60–70 persen berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan 15–30 persen tidak terkelola.
“Upaya kolaboratif antara pemerintah dan sektor industri sangat penting untuk mencapai target ini,” kata Agus Rusly, Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, KLHK dalam rilisnya, Sabtu (21/6/2025).
Daur Ulang Sampah Plastik
Salah satu bentuk kolaborasinya adalah menggandeng industri swasta, seperti Fonterra Indonesia. Mereka mendaur ulang plastik multilayer, yakni jenis kemasan yang sulit diolah dan selama ini menjadi masalah utama dalam pengelolaan sampah.
Di tahun 2023, Fonterra mendaur ulang 100 metrik ton material setara 37 truk sampah, dan pada 2024 target ditingkatkan menjadi 250 metrik ton. Perusahaan menargetkan 350 metrik ton daur ulang tercapai pada 2026.
“Komitmen kami adalah mengelola sampah plastik pasca konsumsi yang sulit diolah, sambil membuka peluang baru bagi masyarakat,” ujar Direktur Operasional Fonterra Brands Indonesia, M Ali Nasution.
Masyarakat Dilibatkan dalam Ekonomi Sirkular
Dalam kegiatannya, Fonterra menggandeng Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO).
Mereka bersama-sama mengelola sampah kemasan multilayer, seperti sachet, agar dapat diubah menjadi biji plastik yang digunakan untuk membuat terpal, ember, hingga peralatan rumah tangga.
“Kolaborasi seperti ini penting untuk memperkuat sistem pengumpulan dan edukasi masyarakat,” ujar Reza Andreanto, General Manager IPRO.
Menurutnya, keterlibatan kelompok perempuan dalam edukasi dan pemilahan sampah dari sumbernya turut mempercepat pencapaian sistem daur ulang yang inklusif dan berkelanjutan.
Inisiatif ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tapi juga memberi peluang penghasilan bagi warga, terutama melalui kegiatan pengumpulan dan pemilahan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini menjadi komoditas baru.
“Melalui inisiatif ini, kita turut mendorong ekonomi sirkular yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Ali.